Oleh Dr. Yusdinur
Menulis pada dasarnya merupakan pencurahan dan aktualisasi ide ke dalam bahasa tulis. Menulis juga merupakan upaya mengekspresikan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkan ke dalam bahasa tulisan. Hampir setiap orang sebenarnya pernah melakukan aktivitas menulis, apakah menulis surat, laporan, skripsi, dan sebagainya. Dengan demikian, kegiatan menulis pada hakikatnya sudah menjadi bagian dari aktivitas hidup kita sehari-hari, dan dalam dataran yang lebih jauh ia merupakan kebutuhan masyarakat modern. Disamping itu, menulis juga bisa menjadi profesi. Para jurnalis dan penulis buku adalah mereka yang hidupnya dari menulis. Dengan menulis, kita dapat mensosialisasikan ide-ide kita kepada masyarakat dan para pengambil kebijakan.
Banyak literatur menjelaskan bahwa jika ingin menjadi penulis (di media massa), maka modal yang perlu dimiliki adalah ‘kepekaan’ dan ‘sikap kritis’. Yaitu proses ketika kita berhadapan dengan ‘teks’ kehidupan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Untuk itu, kita perlu secara terus menerus mengasah kepakaan dan sikap kritis kita. Misalnya dengan cara bertanya, menyangsikan, mendebat, dan mengolah suatu ide dan peristiwa yang terekam dalam layar kesadaran kita. Suatu inspirasi selalu bermula dari ide dan peristiwa. Ini merupakan modal utama seorang penulis.
Lalu, bagaimana cara mencari ide? Yakni dengan cara menggumuli teks kehidupan yang sangat luas. Teks kehidupan ini bisa berupa teks tertulis berupa bahan bacaan atau pustaka yang beraneka ragam, seperti buku, surat kabar, majalah, jurnal, internet, dan sebagainya. Bisa juga dari teks yang terlihat dan terdengar seperti radio, televisi, film, teater, drama, karya seni, dan lain-lain. Juga teks yang tidak tertulis, berupa kejadian atau peristiwa kehidupan yang kita jumpai, kita alami, kita rasakan, kita dengar, kita lihat dan kita saksikan.
Dari teks-teks yang sangat luas tadi, lantas kita bisa menemukan ide dan inspirasi untuk menulis. Dari sinilah proses kreatif menulis bisa kita mulai. Misalkan saja suatu ketika kita membaca surat kabar tentang konflik antar etnis di Kalimantan. Setelah membaca, lalu kita tertarik untuk membuat opini atau artikel tentang pertikaian antar etnis tersebut, misalnya dari sudut pandang psikologis, sosiologis, antropologis, historis, ekonomis, agama, dan politis.
Nah, beberapa langkah dalam menulis artikel adalah:
- Cari ide dan tentukan topik apa yang ingin kita tulis. Topik adalah pokok pembicaraan. Misalnya tentang hutang luar negeri Indonesia yang membengkak hingga lebih dari 8.000 triliun rupiah.
- Buat semacam sketsa dan coret-coret tentang point bahasan apa yang akan kita uraikan dari topik yang kita buat. Untuk penulis yang sudah terlatih, sketsa ini tidak dibutuhkan lagi. Dia hanya merefleksikan sejenak tentang topik yang akan digarap, kemudian langsung mulai menulis.
- Dari sketsa tersebut kemudian disusun bahasan kalimat demi kalimat, sampai bahasan kita menjadi tulisan. Bagus juga kalau menghayati artikel sebanyak-banyaknya dari penulis-penulis yang sering menulis di media massa.
Artikel, Esai dan Kolom
Terkadang, kita sering rancu dalam membedakan antara artikel, esai dan kolom. Bahkan tak jarang esai disebut kolom, demikian juga sebaliknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artikel didefinisikan sebagai ‘karya tulis lengkap di majalah, surat kabar, dan sebagainya. Dengan definisi ini, maka artikel sebenarnya karya tulis yang bersifat umum dan luas. Cuma karena untuk konsumsi surat kabar dan majalah, artikel biasanya tidak terlalu panjang, hanya berkisar 5 – 8 halaman kwarto spasi ganda. Untuk jurnal ilmiah, panjang artikel mencapai 10 – 20 halaman kwarto spasi ganda. Meskipun sebagai karya tulis yang bersifat umum dan luas, namun pada umumnya artikel lebih sering didefinisikan sebagai “pemikiran, pendapat, ide, gagasan dan opini seseorang tentang suatu tema dan peristiwa.
Esai, didefinisikan sebagai “karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Secara bebas, esai biasanya merupakan tulisan yang berisi pendapat dan gagasan tentang sastra, seni, dab kebudayaan. Jadi, esai lebih banyak mengedepankan pendapat reflektif subyektif penulisnya, walaupun tentang suatu fenomena yang obyektif.
Sementara kolom merupakan tulisan yang hampir sama dengan artikel dan esai, cuma isinya lebih pendek, kira-kira setengah panjang artikel. Kalau kita cermati, teknik penyajian kolom biasanya khas dan agak berbeda dengan esai dan artikel. Dalam beberapa kasus, ada kolom yang biasa disebut esai, juga esai yang disebut kolom. Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad di Tempo yang puitis bisa disebut kumpulan esai atau kumpulan kolom sekaligus.
Berikut ringkasan kriteria artikel, esai, dan kolom:
- Artikel
- Jumlah halaman (spasi ganda kwarto): 5 – 8 halaman
- Posisi penulis: Obyektif, fakta, opini
- Bentuk tulisan: Serius, kaku
- Referensi: Butuh
- Esai
- Jumlah halaman (spasi ganda kwarto): 5 – 8 halaman
- Posisi penulis: Subyektif penulis, reflektif
- Bentuk tulisan: Santai
- Referensi: Butuh
- Kolom
- Jumlah halaman (spasi ganda kwarto): 2 – 3 halaman
- Posisi penulis: Subyektif penulis, reflektif
- Bentuk tulisan: Puitis
- Referensi: tidak dibutuhkan, meskipun boleh saja
Langkah-langkah taktis
Walaupun mudah secara teoritis, banyak orang sangat sulit untuk bisa menulis. Kebanyakan orang mempunyai kemampuan verbal yang bagus, tapi ketika berhadapan dengan kertas dan pena atau duduk di depan komputer dan laptop, maka seringkali ide-ide yang sudah ada hilang seketika. Karena itu perlu trik-trik khusus dalam mempersiapkan sebuah tulisan hingga dimuat media massa, yakni:
- Modal lain sebagai penulis, selain kritis adalah kelancaran berbahasa. Kelancaran berbahasa ini hanya bisa dilatih dan diasah dengan cara membaca sebanyak mungkin dan latihan yang terus-menerus. Menulis adalah proses latihan dan mencoba terus menerus.
- Penguasaan landasan teoritis. Walaupun tidak harus mendalam, penguasaan teori tertentu sangat membantu dalam menulis. Misalnya teori politik sangat membantu dalam membuka analisis tentang peristiwa-peristiwa politik.
- Belajar pada penulis tenar. Penulis yang sudah biasa dimuat tulisannya di media massa biasanya membuat artikel-artikel yang bagus dan berkualitas. Kita bisa belajar dari pola-pola bahasa dan gaya penulisan yang digunakannya.
Demikianlah, tak ada usaha menulis yang sia-sia. Ketekunan lambat laun akan membuahkan hasil, sekecil apapun. Dengan membaca sebanyak-banyaknya dan membandingkan berbagai karya, entah itu artikel, esai maupun kolom, terutama dari para penulis terkenal, maka lama kelamaan kita akan bisa mengidentifikasi mana karya yang bagus dan tidak bagus. Setelah itu menulislah! #
(Foto: pinterest.com)
















































