Kolom Dr. Yusdinur
Banjir, bencana yang selalu berulang, tahun ini melanda banyak wilayah di Indonesia. Bekasi adalah salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir 2025. Kadin memperkirakan bahwa kerugian ekonomi akibat banjir Jabodetabek 2025 lebih dari Rp5 triliun. Ini belum dihitung kerugian secara sosial dan lingkungan yang angka rupiahnya bisa berlipat ganda.
Selama ini, banyak orang menyalahkan alam sebagai penyebab banjir, dan menganggap itu sudah takdir Tuhan. Para pejabat publik seringkali melontarkan pernyataan bahwa banjir terjadi karena curah hujan sangat tinggi, atau adanya perubahan cuaca ekstrem, dan sebagainya.
Ada juga pejabat publik yang sesumbar mengatakan bahwa “macet dan banjir Jakarta akan mudah diatasi jika ia menjadi presiden”. Nyatanya, satu dekade kemudian setelah ia turun dari presiden, tak ada solusi apapun.
Di tengah kejenuhan dalam mencari solusi banjir yang selalu menyalahkan alam, ada baiknya kita perlu mengubah paradigma berpikir masyarakat dan para pejabat publik—meskipun sebagian sudah berubah—bahwa banjir itu adalah kiriman Tuan, bukan bencana alam, apalagi kiriman Tuhan.
Tuan siapa? Siapa lagi kalau bukan Tuan-tuan yang sedang berkuasa dan atau pernah berkuasa di masa lalu. Tuan-tuan yang rakus bin serakah mengeksploitasi hutan dan alam demi fulus secara serampangan, mengabaikan ilmu pengetahuan, dan melegitimasinya atas nama “pembangunan”.
Tuan-tuan yang seenaknya saja membuat tata ruang yang tidak sesuai dengan fungsi dan peruntukan lahan, tidak serius mempertimbangkan keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial dan ekonomi. Tidak peduli pada dampak jangka panjang yang akan dirasakan oleh masyarakat rentan.
Karena tindakan Tuan, maka banjir tidak bisa lagi dikatakan sebagai bencana alam, atau bencana dari Tuhan. Banjir adalah bencana dari Tuan, alias manmade disaster. Alam hanya menjalankan tugasnya sesuai perintah Tuhan. Alam mengatur siklus hidrologi melalui evaporasi (penguapan), kondensasi (pengembunan), presipitasi (hujan), infiltrasi (penyerapan air hujan ke dalam tanah), dan limpasan air permukaan.
Siklus hidrologi ini berlangsung secara berulang untuk mendukung kehidupan kita sebagai manusia. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika siklus hidrologi berhenti, dan tak ada hujan. Kita mau mendapatkan air dari mana untuk kebutuhan hidup sehari-hari?
Sayangnya, karena kebodohan dan kerakusan, Tuan-tuan mengganggu siklus hidrologi ini. Tuan-tuan merusak kapasitas infiltrasi dan jalur limpasan air permukaan. Tuan-tuan menghancurkan hutan-hutan di kawasan hulu yang menyebabkan air hujan tidak mampu meresap ke dalam tanah, dan air limpasan mengalir bebas kemana-mana. Tuan-tuan juga merusak daerah aliran sungai yang menyebabkan air limpasan tak mampu ditampung.
Di wilayah perkotaan, Tuan-tuan juga suka mengangkangi tata ruang demi cuan. Kawasan resapan air berubah dan hilang, lalu berdiri megah gedung-gedung bertingkat, mal-mal indah, dan fasilitas pemerintah. Sungai-sungai dan waduk tidak Tuan benahi dan Tuan biarkan dangkal. Sepanjang daerah aliran sungai menjadi kawasan kumuh yang didiami warga Tuan yang hidup kismin.
Dalam skala yang lebih luas, Tuan-tuan abai, malas-malasan, dan cenderung tidak mau berupaya untuk secara serius menurunkan emisi karbon. Produksi emisi yang terus meningkat dari penggunaan energi fosil, deforestasi, limbah, proses industri, dan praktik pertanian, menyebabkan terjadinya krisis iklim yang melahirkan berbagai bencana, termasuk banjir yang Tuan kirim itu.
Lalu, apakah kami masih terus menyalahkan alam dan pasrah pada Tuhan? Atau kami perlu memaksa Tuan-tuan itu supaya berhenti mengirim bencana banjir kepada kami semua. Waktunya bertindak menghentikan manmade disaster ini. (Depok, Februari 2025)

















































