Kolom Dr. Yusdinur
Di media sosial, banyak orang mempertentangkan penting tidaknya sekolah untuk mencapai sukses dan menjadi kaya. Sebagian orang berpendapat bahwa tidak penting sekolah tinggi, karena tidak menjamin masa depan lebih baik, dan tidak menjamin menjadi kaya. Mereka menunjuk kepada sejumlah orang sukses di dunia, termasuk orang-orang sukses di Indonesia, yang menjadi kaya raya, bukan karena sekolahnya yang tinggi, tetapi karena mereka fokus membangun bisnis dan wirausaha.
Lalu, benarkah pendidikan tidak penting? Baiklah, coba kita lihat data beberapa orang kaya dunia, apa yang menjadi kekuatan mereka untuk sukses.
Jafar Ershadi Fard, seorang ahli energi terbarukan dari Iran di laman LinkedIn menulis status secara bagus tentang orang-orang kaya di dunia itu. Begini kata Jafar:
- Elon Musk (orang terkaya dunia tahun 2024, pemilik Tesla dan SpaceX) mempunyai seorang ayah pengusaha batu zamrud di Afrika Selatan yang saat itu masih dikuasai oleh rezim apartheid. Elon Musk punya kekuatan uang.
- Jeff Bezos (orang terkaya kedua dunia tahun 2024) memulai bisnis Amazon dengan modal 300.000 dolar (sekitar 4,2 M rupiah) yang ia peroleh dari ayahnya yang kaya raya dan teman-temannya yang juga kaya. Jeff Bezos juga punya kekuatan uang.
- Saat memulai membangun microsoft, Bill Gate (orang terkaya keempat dunia) mempunyai seorang ibu yang mempunyai posisi mentereng sebagai petinggi IBM. Sang ibu meyakinkan Bill Gate untuk mau mengambil resiko dengan perusahaan barunya. Bill Gate mempunyai kekuatan jaringan dan koneksi (networks/connections).
- Mark Zukerberg sempat melanjutkan kuliah di universitas terbaik di dunia, yakni Harvard. Mark drop-out dari universitas karena ia ingin fokus mengembangkan facebook, dan ia diberi kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Mark didukung oleh sistem yang bekerja (working system) di lingkungannya.
- Warren Buffett (orang kaya keenam dunia dan CEO Berkshire Hathaway) adalah anak dari seorang politisi anggota Kongres Amerika yang berpengaruh dan mempunyai perusahaan investasi. Warren Buffett mempunyai latar belakang keluarga kaya dan berkuasa.
Jafar Ershadi Fard menegaskan bahwa sangat berat bagi orang-orang yang tidak punyai koneksi, tidak punyai uang/kekayaan, tidak punyai dukungan keluarga kaya, atau tidak berada dalam sistem yang mendukung, untuk membuat mereka menjadi sukses dan kaya.
Karena itu, lanjut Jafar, if you have no connections, you have no money, you have no family supports, and you have no working system, the only thing you have is education.
Jafar hanya memberikan contoh yang terjadi di Amerika dimana kekayaan, latar belakang keluarga, koneksi, dan sistem yang mendukung, memberi ruang bagi setiap orang untuk sukses dan menjadi kaya raya. Tentu banyak cara lainnya yang membuat orang sukses. Dalam sistem kapitalis dengan pasar bebasnya, orang-orang superkaya bisa lahir dengan latar belakang kekayaan, dukungan keluarga, koneksi dan sistem.
Di sisi lain, dalam sistem kapitalisme-negara (state-capitalism) seperti Indonesia Orde Baru, orang-orang superkaya juga bisa lahir dengan memanfaatkan dan memanipulasi tatanan politik otoriter serta birokrasi yang super-korup. Generasi kedua atau ketiga dari orang-orang yang menjadi kaya raya oleh Orde Baru dengan mudah melanjutkan singgasana kekayaannya sampai saat ini.
Berbeda dengan mereka yang sudah terlanjut kaya karena berbagai kemudahan dan akses yang dimiliki oleh generasi sebelumnya, kita yang tidak punya privilage tentu saja harus mau bekerja keras dan cerdas untuk mencapai sukses. Saya setuju dengan Jafar, saat kita tidak mempunyai modal sosial yang memadai (jaringan keluarga, koneksi yang mendukung, warisan kekayaan, dsb.), maka pendidikan menjadi jalan utama menuju sukses. #

















































