Kolom Dr. Yusdinur
Perubahan dunia berlangsung sangat cepat. Perkembangan teknologi informasi membuat ruang dan jarak menjadi sempit. Kehidupan kita menjadi terhubung, meskipun dengan jarak yang sangat jauh. Globalisasi era 4.0 menjadi tak terhindarkan. Dalam dunia yang semakin sempit oleh jarak dan waktu ini, kepemimpinan di pemerintahan, bisnis, dan organisasi masyarakat sipil juga harus berubah.
Tak bisa lagi seorang pemimpin hanya hebat di rumahnya sendiri, namun tak punya daya tawar di luar sana. Pemimpin era 4.0 haruslah pemimpin yang berwawasan global, punya daya tawar ide dan kemampuan intelektualitas untuk mempengaruhi perubahan dunia, serta cekatan memperbaiki semua tantangan dalam pembangunan bangsanya.
Seperti Sukarno, Hatta, dan para pendiri bangsa, seorang pemimpin dengan kapasitas global harus mempunyai senjata lengkap: kecanggihan secara intelektual, kematangan secara emosional, dan kehebatan secara teknikal.
Seorang pemimpin dengan kapasitas global harus mempunyai senjata lengkap: kecanggihan secara intelektual, kematangan secara emosional, dan kehebatan secara teknikal. Dan, satu hal yang penting adalah kemampuan berkomunikasi dengan komunitas internasional.
Berkomunikasi dengan komunitas dan pemimpin dunia bukanlah sekedar berkomunikasi cas cis sus ala kadarnya, atau sekedar hadir dalam forum-forum internasional. Berkomunikasi dengan komunitas internasional adalah berkomunikasi dengan kekuasaan (power). Bicara kekuasaan, maka yang dibutuhkan adalah the ability to influence, alias kemampuan untuk mempengaruhi.
Bagaimana kita mampu mempengaruhi komunitas internasional? Ada dua cara. Pertama, kita harus menjadi negara yang kuat dan berpengaruh secara ekonomi, politik dan teknologi. Dalam kondisi ini, suara pemimpin-pemimpin kita akan didengar di pentas dunia. Komunitas dunia berkepentingan dengan kita jika kita kuat secara ekonomi, politik, dan teknologi. Peran inilah dimainkan oleh pemimpin-pemimpin China saat ini, dimana posisi China di tingkat global menguat sangat signifikan, baik secara ekonomi, politik, dan teknologi. Sebuah posisi global di era modern yang selama ini dipegang oleh negara-negara Barat atau negara-negara yang berafiliasi dengan mereka, seperti Jepang.
Cara kedua, saat negara kita masih belum memungkinkan menjadi kuat dan hebat secara ekonomi, politik, dan teknologi, maka yang dibutuhkan adalah kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Pemimpin-pemimpin yang punya kapasitas kepemimpinan luar biasa ini, seperti saya sampaikan di atas, setidaknya mempunyai sejumlah kompetensi utama, yakni kecanggihan secara intelektual, kematangan secara emosional, dan kehebatan secara teknikal, serta kemampuan berkomunikasi dengan komunitas global secara visioner.
Dalam kondisi negara kita sebagai negara berkembang dan belum mempunyai daya tawar lain secara global, maka kualitas kepemimpinanlah yang menentukan kita bisa berperan di level global. Sukarno adalah contoh bagus bagaimana kualitas kepemimpinannya yang luar biasa itu bisa membawa Indonesia berperan dalam forum global, meskipun Indonesia baru merdeka. Tentu saja, saya tidak sedang membandingkan Sukarno dengan pemimpin-pemimpin kita saat ini, karena mereka hidup dalam dua kondisi dunia yang sangat berbeda.
Karena itulah, para pemimpin kita di semua tingkatan harus didorong untuk mempunyai kemampuan mempengaruhi di tingkat global, dan jangan hanya merasa besar di dalam tempurung. Kondisi ini sekaligus akan merangsang pemimpin-pemimpin lokal untuk meningkatkan kapasitas dirinya secara intelektual dan kemampuan berkomunikasi di level global. Dengan bergaul bersama komunitas gobal, akan banyak inspirasi yang bisa diperoleh untuk memperbaiki kehidupan masyarakat kita.
Kemampuan mempengaruhi (the ability to influence) ini yang perlu ditanamkan kepada generasi muda kita, sehingga mereka akan bisa berperan di kancah dunia yang lebih luas, seiring dengan semakin menyatunya komunitas dunia oleh kemajuan teknologi informasi. Bangsa ini harus bergerak ke depan untuk memperbaiki dirinya, membenahi masalah-masalah bangsa, dan sekaligus berkontribusi dalam perbaikan kehidupan masyarakat dunia.
Yang menjadi tantangan adalah bahwa di tengah kondisi illiberal democracy dalam kontestasi elektoral, apakah kita mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang visioner? Sementara realitas saat ini memperlihatkan bahwa yang muncul dalam ruang publik adalah aktor-aktor marital biologis dari jaringan keluarga politik dengan meritokrasi dan leadership rendah. Biar waktu yang menjawab. #

















































